Jumat, 19 Mei 2017

SEMANTIK



SEMANTIK


A.                Pengertian Semantik
               Semantik (dari bahasa Yunani: semantikos [1][2], memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode,atau jenis representasi lain. Dengan kata lain, semantik adalah pembelajaran tentang makna. semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.

B.               Jenis – jenis semantik
               Beberapa jenis semantik yang dibedakan berdasakan tataran atau bagian dari bahasa itu menjadi objek  penyelidikan, yaitu:
1. Semantik Gramatikal
                        adalah studi semantik yang khususnya mengkaji makna yang terdapat dalam          satuan kalimat. Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran,   yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari    struktur intern kata, serta proses-proses pembentukannya. Sedangkan sintaksis adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih    besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat. Satuan-satuan morfologi, yaitu morfem dan      kata, maupun satuan sintaksis yaitu kata, frase, klausa, dan kalimat, jelas ada maknanya. Baik proses morfologi dan proses sintaksis itu sendiri juga makna. Oleh             karena itu, pada tataran ini ada masalah-masalah semantik yaitu yang disebut         semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari             tataran tersebut.
            2. Semantik Leksikal
                        adalah kajian semantik yang lebih memuaskan pada pembahasan sistem      makna yang terdapat dalam kata. semantik leksikal tidak terlalu sulit. sebuah kamus         merupakn contoh yang tepat untuk semantik leksikal; makna setiap kata diuraikan disitu. jadi, semantik leksikal memperhatikan makna yang terdapat didalam kalimat            kata sebagai satuan mandiri. Leksikel adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari   bentuk nomina leksikon (vocabulary, kosakata, pembendaharaan kata). Satuan dari             leksikon adalah leksem, yaitu satuan kata yang bermakna ( Chaer, 2002: 60 dalam        Wahab 1995 ). Kalau leksikon disamakan dengan kosakata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat disamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikel dapat             diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata.             Makna leksikel dapat juga diartikan makna yang sesuai dengan acuannya, makna    yang sesuai dengan hasil observasi panca indera, atau makna yang sungguh-sungguh    nyata dalam kehidupan kita. Kajian makna bahasa yang lebih memusatkan pada peran       unsur bahasa atau kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu bahasa lazim            disebut sebagai semantik leksikel.

            3. Semantik Kalimat
                        Verhaar (1978: 126 dalam Parera 2004) mengutarakan semantik kalimat yang         membicarakan hal-hal seperti soal topikalisasi kalimat yang merupakan masalah            semantik, namun bukan masalah ketatabahasaan. Tentang semantik kalimat ini menurut beliau memang masih belum banyak menarik perhatian para ahli linguistik.

C.        Pengertian Makna
                        Makna merupakan bidang kajian yang dibahas dalam ilmu semantik. Semantik       berkedudukan sebagai salah satu cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna suatu kata dalam bahasa, sedangkan liguistik merupakam ilmu yang mengkaji        bahasa lisan dan tulisan yang memiliki ciri-ciri sistematik, rasional, empiris sebagai            pemerian struktur dan aturan-aturan bahasa (Nurhayati,2009:3). berdasarkan pendapat             diatas dapat disimpulkan bahwa makna suatu kata dalam bahasa dapat diketahui   dengan landasan semantik. Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan, pengertian dari makna sendiri             sangatlah beragam.
Konsep makna (KBBI) adalah cara seseorang membuat pengertian terhadap objek atau benda yang ada batasan-batasan unsur penting. Contoh: sebuah buku, dapat kita maknai sebagai bahan ilmu pengetahuan, lembaran, dan lainnya.
Menurut chaer (2009:59) dalam buku “pengantar Sematik bahasa Indonesia”
Dibagi menjadi enam jenis, diantaranya :
1.      Berdasarkan jenis semantiknya: makna leksikal dan makna gramatikal
a)      Makna Lesikal, adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun, adapun contohnya yaitu :
1)      Kerbau     : sejenis binatang berkaki empat yang biasa digunakan untuk membajak.
2)      Buku        : sejenis barang yang digunakan untuk media tulis, terbuat dari kertas.
b)      Makna Gramatikal, adalah makna yang baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Adapun contohnya yaitu :
1)      Bersepeda                        : mengendarai sepeda
2)      Berseragam          : memakai seragam
2.      Berdasrkan ada tidaknya referen: makna referensial dan makna nonreferensial
a)      Makna Referensial, adalah makna yang mempunyai referen atau acuan.
Contoh : baju, kain, buku
b)      Makna Nonreferensial, adalah makna yang tidak memiliki refen.
Contoh : dan, atau, tetapi.
3.      Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa: makna denotatif dan makna konotatif
a)      Makna Denotatif, adalah makna asli, makna asal, makna sebenarnya yang dimiliki leksem.
Contoh : kurus, gemuk, kuda
b)      Makna Konotatif, adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang menggunakan makna tersebut.
Contoh : babi, anjing, sapi.
4.      Berdasarkan ketepatan makna: makna kata dan makna istilah/ makna umum dan makna khusus
a)      Makna kata, adalah makna yang pasti, jelas, tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat.
Contoh : batu, sepatu, tali.
b)      Makna istilah, adalah makna yang baru menjadi jelas kalu kata itu sudah berada dalam suatu korteks kalimat atau korteks situasinya.
Contoh : diagnosis, sinonim, embrio

5.      Berdasarkan ada tidaknya hubungan makna: makna konseptual dan makna asosiatif
a)      makna konseptual, adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata tersebut dengan  konsep. Makna konseptual itu adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun.jadi sebenarnya makna konseptual ini sama dengan makna referensial, makna leksikal, dan makna denotatif.
Contohnya : kata kursi memiliki makna konseptual ‘sebuah tempat yang digunakan untuk duduk’. Kata amplop memiliki makna ‘sampul surat’
b)      Makna Asosiatif, adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berbeda diluar bahasa. Makna asosiatif ini sebenarnya sama dengan perlambangan yang di gunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain yang mempunyai kemiripan sifat, keadaan atau ciri yang ada pada konsep asal kata atau leksem tersebut.
Contoh : kata kursi berasosiasi dengan ‘kekuasaan” kata amplop berasosiasi dengan “uang suap”

6.      Berdasarkan kriteria lain: makna idiomatik dan makna peribahasa, makna kolokatif, makna reflektif, makna kias
a)      makna idiomatic, adalah makna yang tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya baik secara lesikal maupun gramatikal. Idiom dibedakan menjadi dua yaitu, idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya yang sudah melembur menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Contohnya: Banting tulang artinya ‘bekerja keras’. Meja hijau artinya ‘pengadilan’.
Sedangkan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna lesikal sendiri.
Contohnya : daftar hitam artinya ‘daftar yang berisi nama-nama orang yang dicurigai atau dianggap bersalah.
b)      Makna peribahasa, adalah makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan makna sebagai peribahasa.
Contihnya : besar pasak dari pada tiang artinya ‘besar pengeluaran dari pada pendapatan’. Makna pribahasa ini bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka biasanya juga disebut dengan nama perumpamaan.
c)      Makna kolokatif, adalah makna yang berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut hnya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya.
d)     makna reflektif, adalah makna yang muncul dari penutur pada saat merespon apa yang dilihat.
e)      makna kias, adalah makna kata atau leksam yang tidak memiliki arti sebenarnya yaitu oposisi dari makna sebenarnya.
Contohnya :  putri malam artinya bulan atau raja siang artinya matahari.

Sumber :         
Chaer,Abdul.2009.PengantarSemantikBahasaIndonesia. Jakarta Rinekacipta
Chaer,Abdul.2007Liguistikumum.Jakarta:Rinetacipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar