SEMANTIK
A. Pengertian Semantik
Semantik (dari bahasa Yunani:
semantikos [1][2], memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda) adalah
cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu
bahasa, kode,atau jenis representasi lain. Dengan kata lain, semantik adalah pembelajaran
tentang makna. semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis,
pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika,
penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.
B.
Jenis
– jenis semantik
Beberapa jenis semantik yang
dibedakan berdasakan tataran atau bagian dari bahasa itu menjadi objek penyelidikan, yaitu:
1.
Semantik Gramatikal
adalah
studi semantik yang khususnya mengkaji makna yang terdapat dalam satuan kalimat. Tataran tata
bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah cabang linguistik
yang mempelajari struktur intern kata,
serta proses-proses pembentukannya. Sedangkan sintaksis adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam
membentuk satuan yang lebih besar,
yaitu frase, klausa, dan kalimat. Satuan-satuan morfologi, yaitu morfem dan kata, maupun satuan sintaksis yaitu kata,
frase, klausa, dan kalimat, jelas ada maknanya.
Baik proses morfologi dan proses sintaksis itu sendiri juga makna. Oleh karena itu, pada tataran ini ada
masalah-masalah semantik yaitu yang disebut semantik
gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.
2. Semantik Leksikal
adalah kajian semantik
yang lebih memuaskan pada pembahasan sistem makna
yang terdapat dalam kata. semantik leksikal tidak terlalu sulit. sebuah kamus merupakn contoh yang tepat untuk
semantik leksikal; makna setiap kata diuraikan disitu.
jadi, semantik leksikal memperhatikan makna yang terdapat didalam kalimat kata sebagai satuan mandiri. Leksikel
adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk
nomina leksikon (vocabulary, kosakata,
pembendaharaan kata). Satuan dari leksikon
adalah leksem, yaitu satuan kata yang bermakna ( Chaer, 2002: 60 dalam Wahab 1995 ). Kalau leksikon disamakan
dengan kosakata atau perbendaharaan kata, maka
leksem dapat disamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikel dapat diartikan sebagai makna yang
bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Makna leksikel dapat juga diartikan makna yang sesuai
dengan acuannya, makna yang sesuai
dengan hasil observasi panca indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Kajian makna
bahasa yang lebih memusatkan pada peran unsur
bahasa atau kata dalam kaitannya dengan kata lain dalam suatu bahasa lazim disebut sebagai semantik leksikel.
3. Semantik Kalimat
Verhaar (1978: 126 dalam
Parera 2004) mengutarakan
semantik kalimat yang
membicarakan hal-hal seperti soal
topikalisasi kalimat yang merupakan masalah semantik,
namun bukan masalah ketatabahasaan. Tentang semantik kalimat ini menurut beliau memang masih belum banyak
menarik perhatian para ahli linguistik.
C. Pengertian Makna
Makna merupakan bidang
kajian yang dibahas dalam ilmu semantik. Semantik berkedudukan sebagai salah satu cabang ilmu linguistik yang
mempelajari tentang makna suatu kata
dalam bahasa, sedangkan liguistik merupakam ilmu yang mengkaji bahasa lisan dan tulisan yang memiliki
ciri-ciri sistematik, rasional, empiris sebagai pemerian struktur dan aturan-aturan bahasa
(Nurhayati,2009:3). berdasarkan pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa makna suatu kata dalam bahasa dapat diketahui dengan landasan semantik. Makna adalah bagian
yang tidak terpisahkan dari semantik dan
selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan, pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam.
Konsep makna (KBBI) adalah cara
seseorang membuat pengertian terhadap objek atau benda yang ada batasan-batasan
unsur penting. Contoh: sebuah buku, dapat kita maknai sebagai bahan ilmu
pengetahuan, lembaran, dan lainnya.
Menurut chaer (2009:59) dalam buku
“pengantar Sematik bahasa Indonesia”
Dibagi menjadi enam jenis, diantaranya :
1. Berdasarkan jenis semantiknya: makna
leksikal dan makna gramatikal
a) Makna Lesikal,
adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun,
adapun contohnya yaitu :
1) Kerbau : sejenis binatang berkaki empat yang biasa
digunakan untuk membajak.
2) Buku : sejenis barang yang digunakan untuk
media tulis, terbuat dari kertas.
b) Makna
Gramatikal, adalah makna yang baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti
afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Adapun contohnya yaitu :
1) Bersepeda : mengendarai sepeda
2) Berseragam : memakai seragam
2. Berdasrkan ada tidaknya referen:
makna referensial dan makna nonreferensial
a)
Makna Referensial, adalah makna yang
mempunyai referen atau acuan.
Contoh : baju, kain, buku
b)
Makna Nonreferensial, adalah makna yang tidak memiliki
refen.
Contoh : dan, atau, tetapi.
3. Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa:
makna denotatif dan makna konotatif
a)
Makna Denotatif, adalah makna asli, makna asal, makna
sebenarnya yang dimiliki leksem.
Contoh : kurus, gemuk, kuda
b)
Makna Konotatif, adalah makna lain yang
ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang
yang menggunakan makna tersebut.
Contoh : babi, anjing, sapi.
4. Berdasarkan ketepatan makna: makna
kata dan makna istilah/ makna umum dan makna khusus
a)
Makna
kata, adalah makna yang pasti, jelas, tidak meragukan meskipun tanpa konteks
kalimat.
Contoh : batu, sepatu, tali.
b)
Makna
istilah, adalah makna yang baru menjadi jelas kalu kata itu
sudah berada dalam suatu korteks kalimat atau korteks situasinya.
Contoh : diagnosis, sinonim, embrio
5. Berdasarkan ada tidaknya hubungan
makna: makna konseptual dan makna asosiatif
a)
makna
konseptual, adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata
berkenaan dengan adanya hubungan kata tersebut dengan konsep. Makna konseptual itu adalah makna
yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya, dan makna
yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun.jadi sebenarnya makna konseptual
ini sama dengan makna referensial, makna leksikal, dan makna denotatif.
Contohnya : kata kursi memiliki makna konseptual ‘sebuah tempat yang digunakan untuk
duduk’. Kata amplop memiliki makna
‘sampul surat’
b)
Makna Asosiatif, adalah makna yang
dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu
dengan sesuatu yang berbeda diluar bahasa. Makna asosiatif ini sebenarnya sama
dengan perlambangan yang di gunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk
menyatakan suatu konsep lain yang mempunyai kemiripan sifat, keadaan atau ciri
yang ada pada konsep asal kata atau leksem tersebut.
Contoh : kata kursi berasosiasi dengan ‘kekuasaan” kata amplop berasosiasi dengan “uang suap”
6. Berdasarkan kriteria lain: makna
idiomatik dan makna peribahasa, makna kolokatif, makna reflektif, makna kias
a)
makna
idiomatic, adalah makna yang tidak dapat “diramalkan” dari makna
unsur-unsurnya baik secara lesikal maupun gramatikal. Idiom dibedakan menjadi
dua yaitu, idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua
unsurnya yang sudah melembur menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimiliki
berasal dari seluruh kesatuan itu. Contohnya: Banting tulang artinya ‘bekerja keras’. Meja hijau artinya
‘pengadilan’.
Sedangkan idiom sebagian adalah idiom
yang salah satu unsurnya masih memiliki makna lesikal sendiri.
Contohnya : daftar hitam artinya ‘daftar yang berisi nama-nama orang yang
dicurigai atau dianggap bersalah.
b)
Makna peribahasa, adalah makna yang masih dapat
ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara
makna asli dengan makna sebagai peribahasa.
Contihnya : besar pasak dari pada tiang artinya ‘besar pengeluaran dari pada
pendapatan’. Makna pribahasa ini bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan,
maka biasanya juga disebut dengan nama perumpamaan.
c)
Makna kolokatif, adalah makna yang berkenaan dengan
ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang
bersinonim, sehingga kata tersebut hnya cocok untuk digunakan berpasangan
dengan kata tertentu lainnya.
d)
makna
reflektif, adalah makna yang muncul dari penutur pada saat merespon
apa yang dilihat.
e)
makna
kias, adalah makna kata atau leksam yang tidak memiliki arti sebenarnya yaitu
oposisi dari makna sebenarnya.
Contohnya : putri malam artinya bulan atau raja siang
artinya matahari.
Sumber
:
Chaer,Abdul.2009.PengantarSemantikBahasaIndonesia. Jakarta Rinekacipta
Chaer,Abdul.2007Liguistikumum.Jakarta:Rinetacipta