FUNGSI
DAN RAGAM BAHASA
Disusun
untuk memenuhi
Tugas
Mata Kuliah Konsep Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia
Yang
dibimbing oleh Bapak Ady Saputra,M.Pd.
Disusun
oleh:
Lily
Rahmawati (1640605016)
JURUSAN
S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
BORNEO TARAKAN
2017
Kata
Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami semua, dan tak lupa salawat
beriring salam kami hanturkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah pada mata kuliah Konsep Dasar Bahasa &
Sastra Indonesia ini tepat waktu.
Makalah dengan judul “Fungsi dan Ragam Bahasa” ini kami
susun untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Konsep Dasar Bahasa& Sastra
Indonesia yang diberikan oleh Bapak Ady
Saputra,M.Pd.
Tak lupa pula ucapan terima kasih
kami sampaikan kepada :
1.
Bapak Ady Saputra, M.Pd selaku dosen
pengampuh Mata Kuliah Konsep Dasar Bahasa & Sastra Indonesia
2.
Teman seperjuangan lokal A angkatan
2016
3.
Pihak-pihak yang telah membantu
dalam menyusun makalah ini.
Demikian
sedikit penyampaian dari kami kurang dan lebihnya kami mohon maaf.
Tarakan,16
Februari 2017
Tim Penyusun,
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR …………………………………………………………. 1
DAFTAR
ISI.…………………………………………………………………... 2
BAB
I PENDAHULUAN………………………………………………………. 3
A. Latar
Belakang………………………………………………………...…. 3
B. Rumusan Masalah………………………………………………………...
4
C. Tujuan Penulis…………………………………………………………….
4
BAB
II PEMBAHASAN………………………………………………………... 5
A. Definisi Bahasa…………………………………………………………...
5
B. Fungsi Bahasa…………………………………………………………….
6
1. Fungsi Bahasa Secara
Umum………………………………………... 6
2. Fungsi Bahasa Indonesia Secara
Khusus……………………………. 7
3. Fungsi Bahasa Dalam
Masyarakat…………………………………... 7
C. Ragam
Bahasa…………………………………………………………… 8
1. Macam-Macam Ragam Bahasa
…………………………………….. 8
2. Ciri-Ciri Ragam Bahasa Lisan
……………………………………... 9
3. Ciri-Ciri Ragam Bahasa
Tulis………………………………………. 9
BAB
III PENUTUP……………………………………………………………. 11
A. Kesimpulan……………………………………………………………...
11
B. Saran…………………………………………………………………….
11
C. Daftar
Pustaka……………………………………………………………12
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Nama Indonesia secara politik ditetapkan pada peristiwa Sumpah
Pemuda (dalam butir ketiga) sebagai bahasa persatuan dan sekaligus sebagai
bahasa nasional. Peresmian dalam sumpah pemuda bersumber pada Bahasa Melayu,
tepatnya Bahasa Melayu perhubungan atau perantara dan bukan sebagai bahasa
daerah. Sejak peristiwa penting tersebut bahasa Indonesia berkembang sendiri
dan Bahasa Melayu sebagai bahasa daerah di Indonesia pun berkembang sendiri
sampai sekarang.
Bahasa
Indonesia pada waktu dulu sangat tidak divariasikan dalam pengucapan
berbicaranya, dalam penyampaiannya pun kata-katanya hampir baku, tapi tidak
semua warga Indonesia pada waktu itu berbicara dengan bahasa Indonesia yang
baik dan benar. Hanya orang-orang yang berpendidikanlah yang penggunaan bahasa
Indonesianya baku, karena kita ketahui pada zaman dulu jarang orang-orang yang
dapat bersekolah. Hanya orang yang mempunyai uanglah yang dapat bersekolah.
Walaupun begitu, penggunaan bahasa Indonesia di zaman dulu lebih baik dari
penggunaan bahasa Indonesia di zaman sekarang.
Bahasa
Indonesia di zaman sekarang ini sudah banyak divariasikan dalam pengucapan
berbicaranya. Dalam penyampaian pun kata-katanya sudah tidak baku lagi, hal ini
disebabkan karena era globaliasi yang berkembang pesat di Indonesia, karena
pengaruh-pengaruh budaya luar masuk ke Indonesia termasuk cara gaya
berbicaranya, bahasa Indonesia sekarang ini yang baku sudah jarang dipakai lagi
karena dampak globalisasi itu. Orang-orang berbicara dengan kata-kata yang baku
hanya dipakai di kalangan lingkungan sekolah, atau jika sedang berlangsungnya
rapat. Kejadian ini sungguh sangat ironi sekali karena seharusnya kita sebagai
bangsa Indonesia membanggakan bahasa kita sendiri, tapi malah kita yang tidak
berbicara dengan berbahasa Indonesia.
Jika
kita tidak melestarikan tata cara berbicara bahasa Indonesia yang baik dan
benar, maka bangsa kita ini akan terjajah oleh bangsa asing, karena apa yang
dibicarakan dalam kehidupan sehari-haripun kita sudah tidak memakai bahasa
Indonesia. Semua itu sama saja kita sudah terjajah oleh bahasa asing. Dampak
lain yang tadi dikatakan bahasa Indonesia sudah tidak akan dipakai lagi mungkin
akan hilang, dan bisa-bisa dampaknya akan berpengaruh kepada kebudayaan bangsa
kita.
Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dibahas secara rinci tentang apa itu
sebenarnya bahasa, fungsi bahasa dan ragam bahasa, sehingga dapat dipahami dan
diterapkan dalam kehidupan sehari – hari.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang terurai di atas, maka dalam
penulisan makalah diatas dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa defenisi dari bahasa?
2. Apa saja fungsi bahasa?
3. Apa saja yang meliputi ragam bahasa?
C.
Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa
mampu memahami definisi dari bahasa
2. Mahasiswa
mampu mengidentifikasi fungsi bahasa
3. Mahasiswa
mampu mengklasifikasikan ragam bahasa
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Bahasa
Bahasa adalah suatu sistem
lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur
untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengindentifikasi diri (Chaer, 2004:1).
Hal ini memberi gambaran bahwa bahasa adalah berupa bunyi yang digunakan oleh
rnasyarakat untuk berkornunikasi. Keraf (1991:1) mengatakan bahwa bahasa
mencakup dua bidang, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa arus
bunyi, yang mempunyai makna. Menerangkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi
antara anggota masyarakat terdiri atas dua bagian utama yaitu bentuk (arus
ujaran) dan makna (isi).Sedangkan menurut Sibarani (2004:37) Bahasa adalah
bahasa sebagai sistem tanda atau sistem lambang, sebagai alat komunikasi, dan
digunakan oleh kelompok manusia atau masyarakat.
Dalam kamus umum, dalam hal
ini Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1990: 66) bahasa diartikan
sebagai sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat
sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi
untuk melahirkan perasaan dan pikiran.Kamus Webster mendefinisikan bahasa
sebagai A systematic means of communication ideas or feeling by
the use of communication sign, sounds, gestures, or mark having understood
meanings.Dari dua makna umum tentang bahasa di atas, ada persamaan
yang jelas. Persamaan itu adalah bahwa bahasa ditempatkan sebagai alat
komunikasi antar manusia untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan dengan
menggunakan simbol-simbol komunikasi baik yang berupa suara, gestur (sikap badan),
atau tanda-tanda berupa tulisan.Sebagai sebuah istilah dalam linguistic. Secara
formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dibuat
menurut tatabahasa. Sedangkan secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat
yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan.
Definisi yang diajukan
Rakhmat ini tampak mencoba merangkum pengertian umum dengan pendapat
linguis. Istilah sisi formal yang dikemukakan Rakhmat mirip dengan
istilah sistem, sedangkan sisi fungsional sejalan dengan bahasa sebagai
alat komunikasi. Pemahaman bahwa bahasa sebagai alat komunikasi, juga
didukung oleh seorang sosiolinguis bernama Ronald Wardhaugh. Ia
menyatakan bahwa bahasa adalah A System of aribtrary vocal symbols used
for human communicationPenggambaran yang lebih luas tentang bahasa pernah
disampaikan oleh bapak linguistik modern, Ferdinan de Saussure. Ia
menjelaskan bahasa dengan menggunakan tiga istilah yaitu langage, Langue,
dan parole. Ketiga istilah dari bahasa Prancis itu dalam
bahasa Indonesia dipadankan dengan satu istilah saja yaitu
‘bahasa’. Langage adalah sistem lambang bunyi yang
digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal. Langage ini
bersifat abstrak. Istilah langue mengacu pada sistem
lambang bunyi tertentu yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat
tertentu. Sedangkan parole adalah bentuk konkret langue yang
digunakan dalam bentuk ujaran atau tuturan oleh anggota masyarakat dengan
sesamanya (Chaer, 1995:39-40; Chambers, 95:25; Verhaar,81:1).Dari sudut
pandang psikologi, karena bahasa itu sebuah sistem simbol terstruktur, maka
bahasa bisa dipakai sebagai alat berpikir, merenung, bahkan untuk memahami
segala sesuatu. Dengan melihat deretan definisi tentang bahasa di atas, dapat
disimpulkan bahwa cukup banyak dan bervariasi definisi tentang bahasa yang bisa
kita temui. Variasi itu wajar terjadi karena sudut pandang keilmuan
mereka yang juga berbeda.
Meskipun demikian,
variasi tersebut terletak pada penekanannya saja, akan tetapi hakikatnya
sama. Ada yang menekankan bahasa pada fungsi komunikasi, ada yang
mengutamakan bahasa sebagai sistem, ada pula yang memposisikan bahasa
sebagai alat.Indonesia adalah Negara yang wilayahnya sangat luas dengan
penduduk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, maka pengunaan bahasa Indonesia
juga beragam. Apabila beberapa orang berbicara dalam bahasa yang tidak dapat
dipahami, pertama yang terdengar adalah berbagai bunyi dan berselang- seling
dan rumit sekali. Ketika ingin semakin akrab dengan bahasa itu bunyi yang
berselang- seling tadi berubah menjadi bunyi yang dapat dibedakan. Tiap bahasa
memiliki aturan-aturan sendiri yang menguasai bunyi- bunyi dan urutan-
urutannya, kata dan bentukan- bentuknya, kalimat dan susunannya.Indonesia
adalah Negara yang multilingual. Selain bahasa Indonesia yang digunakan secara
nasional, terdapat pula ratusan bahasa daerah , besar maupun kecil, yang
digunakan oleh para anggota masyarakat bahasa daerah itu untuk keperluan yang
bersifat kedaerahan, tetapi di samping itu banyak pula yang hanya menguasai satu
bahasa, namun ada pula yang menguasai dwi bahasa (bilingual) atau lebih dari
dua bahasa (multilingual).
B.
Fungsi Bahasa
1.
Fungsi bahasa secara umum:
a.Untuk tujuan praktis,yaitu sebagai alat
perhubungan dalam pergaulan sehari-hari.
b. Untuk tujuan estetika, yaitu sebagai
alat pemuasan rasa estetika
c.Untuk tujuan kecendekiaan, yaitu sebagai
alat pengajaran dan pemelajaran ilmu pengetahuan.
d.Untuk tujuan filologi, yaitu sebagai alat
mengkaji naskhah kuno, latar sejarah bahasa dan bangsa, budaya dan pengembangan
bahasa.
2.Fungsi Bahasa Indonesia secara khusus:
A.Sebagai
bahasa kebangsaan (nasional), sesuatu bahasa itu berfungsi sebagai :
1.lambang
kebanggaan nasional yang mencerminkan nilai social budaya masyarakatnya.
2. lambang jati diri nasional
yang mengekang kemasukan unsur asing kecuali yang dianggap perlu berasaskan
tatacara tertentu.
3.alat pemersatu masyarakat yang
berbeda latar budaya dengan berbagai kepentingan.
4.alat perhubungan antara daerah dan
antara budaya yang saling merentasi.
Fungsi
ini terdapat dalam “Hasil Perumusan Seminar
Politik Bahasa Nasional”yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28
Februari 1975 antara lainmenegaskan bahwa dalam kedudukannya sebagai bahasa
nasional.
B. Sebagai Bahasa Negara:
Bahasa Negara adalah bahasa yang digunakan dalam
administrasi Negara baik secara lisan
maupun tulisan. Posisi bahasa Negara ini dapat dilihat pemakaiannya dalam
pemerintahan secara resmi. Penulisan surat kelakuan baik, pembuatan kartu tanda
penduduk (KTP) adalah bukti tertulis bahasa Negara dalam pidato resmi Presiden
RI di hadapan Sidang DPR/MPR dan pidato kenegaraan lainnya adalah contoh bukti
bahasa Negara secara lisan. Dalam aktifitas kenegaraan, bahasa
Negara mempunyai empat fungsi, yaitu:
1. Bahasa resmi kenegaraan
2. Bahasa pengantar resmi di sekolah dan
universitas
3. Bahas resmi tingkat nasional dalam kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan Indonesia
4. Bahasa resmi kebudayaan dalam pengembangan
kebudayaan, ilmu, teknologi dan
komunikasi di Indonesia.
Bahasa resmi Negara ini dikukuhkan dalam UUD 1945,
pasal 36 bab XV sehingga telah memainkan perannya dalam kehidupan bernegara. Fungsi
ini terdapat dalam Dalam
“Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal
25-28 Februari 1975 dikemukakan
bahwa di dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara.
3.Fungsi bahasa dalam masyarakat:
1. Alat
untuk berkomunikasi dengan sesama manusia.
2. Alat
untuk bekerja sama dengan sesama manusia.
3. Alat
mengidentifikasi diri.
C.
Ragam Bahasa
Bahasa
mengalami perubahan seiring dengan perubahan masyarakat. Perubahan itu berupa
variasi-variasi bahasa yang dipakai sesuai keperluannya. Agar banyaknya variasi
tidak mengurangi fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam
bahasa timbul mekanisme untuk memilih variasi tertentu yang cocok untuk
keperluan tertentu yang disebut ragam standar (Subarianto, 2000). Bahasa
Indonesia memang banyak ragamnya. Hal Ini karena bahasa Indonesia sangat luas
pemakaiannya dan bermacam-macam ragam penuturnya. Oleh karena itu, penutur
harus mampu memilih ragam bahasa yang sesuai dengan dengan keperluannya, apapun
latar belakangnya.
Ragam
bahasa adalah variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda menurut topik yang
dibicarakan, menurut hubungan pembicara, lawan bicara, dan orang yang
dibicarakan, serta menurut media pembicaraan.
1. Macam-macam ragam bahasa :
1. Ragam baku adalah ragam
bahasa yang oleh penuturnya dipandang sebagai ragam yang baik. Ragam ini biasa
dipakai dalam kalangan terdidik, karya ilmiah, suasana resmi, atau surat resmi.
2. Ragam cakapan (ragam akrab) adalah
ragam bahasa yang dipakai apabila pembicara menganggap kawan bicara sebagai
sesama, lebih muda, lebih rendah statusnya atau apabila topik pembicara
bersifat tidak resmi.
3. Ragam hormat adalah
ragam bahasa yang dipakai apabila lawan bicara orang yang dihormati, misalnya
orang tua dan atasan.
4. Ragam kasar adalah ragam
bahasa yang digunakan dalam pemakaian tidak resmi di kalangan orang yang saling
mengenal.
5. Ragam lisan adalah ragam
bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu
sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Bahasa lisan lebih
ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi
satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Ragam lisan dapat kita temui,
misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi
perkuliahan, ceramah, dan ragam lisan yang non standar, misalnya dalam
percakapan antar teman, di pasar, atau dalam kesempatan non formal lainnya.
6. Ragam resmi adalah ragam
bahasa yang dipakai dalam suasana resmi.
7. Ragam tulis adalah ragam
bahasa yang digunakan melalui media tulis, tidak terkait ruang dan waktu
sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual.
Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun non standar. Ragam
tulis yang standar kita temui dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat
kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis non standar dalam
majalah remaja, iklan, atau poster.
8. Ragam bahasa pada bidang tertentu
seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa jurnalistik, dsb.
9. Ragam bahasa perorangan atau idiolek
seperti gaya bahasa mantan presiden Soeharto, gaya bahasa Benyamin s, dan lain
sebagainya.
10. Ragam bahasa pada kelompok anggota
masyarakat suatu wilayah atau dialek seperti dialek bahasa Madura, Medan,
Sunda, Bali, Jawa, dan lain sebagainya.
11. Ragam bahasa pada kelompok anggota
masyarakat suatu golongan sosial seperti ragam bahasa orang akademisi beda
dengan ragam bahasa orang-orang jalanan.
Macam-macam
ragam bahasa yang disebutkan diatas dapat dibedakan lagi menjadi sebagai
berikut :
Berdasarkan
pokok pembicaraan :
1) Ragam
bahasa undang-undang
2) Ragam
bahasa jurnalistik
3) Ragam
bahasa ilmiah
4) Ragam
bahasa sastra
Berdasarkan
media pembicaraan :
Ragam
lisan yang antara lain meliputi:
1) Ragam
bahasa cakapan
2) Ragam
bahasa pidato
3) Ragam
bahasa kuliah
4) Ragam
bahasa panggung
2.Ciri-ciri
ragam bahasa lisan :
1) Adanya
lawan bicara
2) Terikat
waktu dan ruang
3) Dapat
dibantu dengan mimik muka/wajah, intonasi, dan gerakan anggota tubuh
4) Unsur-unsur
dramatika biasanya dinyatakan dihilangkan atau tidak lengkap
Ragam tulis yang
antara lain meliputi:
1) Ragam
bahasa teknis
2) Ragam
bahasa undang-undang
3) Ragam
bahasa catatan
4) Ragam
bahasa surat
3.
Ciri-ciri
ragam bahasa tulis :
1) Tidak
mengharuskan kedatangan/kehadiran pembaca
2) Diperlukan
ejaan atau tanda baca Kalimat ditulis secara lengkap
3) Komunikasi
resmi
4) Wacana
teknis
5) Pembicaraan
di depan khalayak ramai
6) Pembicaraan
dengan orang yang dihormati
Bahasa
lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat
bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam
pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak
sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi.
Bahasa
isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara bekomunikasi
melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih digunakan permanen
oleh penyandang cacat bisu tuli karena mereka memiliki bahasa sendiri.
Ragam
bahasa menurut hubungan antarpembicara, dibedakan menurut akrab tidaknya
pembicara:
1) Ragam
bahasa resmi
2) Ragam
bahasa akrab
3) Ragam
bahasa agak resmi
4) Ragam
bahasa santai, dan sebagainya
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian
bahasa sangat bergantung pada dari sisi apa kita melihat bahasa. Dalam
pengertian umum bahasa diartikan sebagai sistem lambang bunyi
berartikulasi yang bersifat arbitrer dan alat komunikasi .
Para ahli
linguistik maupun komunikasi mengartikan bahasa sebagai suatu sistem
tanda atau lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para
anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan
mengidentifikasikan diri.
Meskipun
definisi tentang bahasa redaksinya dan penekanannya berbeda, tetapi ada
ciri-ciri umum yang bisa menggambarkan hakikat bahasa.
Ciri-ciri yang menjadi
hakikat bahasa itu adalah bahwa bahasa itu sistematik, beraturan atau
berpola; bahasa itu manasuka (Arbitrer), manasuka atau acak; bahasa
itu vokal atau bahasa itu merupakan sistem bunyi; bahasa itu symbol; bahasa itu
mengacu pada dirinya; bahasa itu manusiawi; dan bahasa itu
komunikasi.
Beberapa
faktor yang menyebabkan timbulnya keragaman bahasa, diantaranya :
Faktor
Budaya atau letak Geografis
Faktor
Ilmu pengetahuan
Faktor
Sejarah
B. Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini, pembaca dapat
memahami dengan baik apa yang dimaksud Bahasa, Fungsi Bahasa dan Ragam Bahasa.
Sehingga dalam pengaplikasiannya di kehidupan sehari- hari, kesalahan –
kesalahan dalam berbahasa pada umumnya dapat diminimalisasi atau mungkin
dihilangkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus, Ruhyadi. 2009. Diktat
Kuliah Bahasa Indonesia. Bekasi
Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI.2010. Panduan EYD dan Tata
Bahasa Indonesia. Jakarta : Transmedia
http://organisasi.org/definisi-pengertian-bahasa-ragam-dan-fungsi-bahasa-pelajaran
bahasa-indonesia