Senin, 03 April 2017

Morfologi

MORFOLOGI
A.    Pengertian Morfologi
Morfologi adalah ilmu-ilmu bahasa yang seluk-beluk bentuk kata dan perubahan serta dampak dari perubahan terhadap arti (makna) dan kelas kata.

B.     Macam – macam Proses Morfologi
1.      Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan kata yang dapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas. Morfem bebas merupakan kata dasar yang dapat berdiri sendiri. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dll. Penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian.
Afiksasi terdiri atas:
a.       prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se
b.       sufiks (–kan, –an, –i),
c.       infiks (–el-, -em-, -er-),
d.      konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i, me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
e.       simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i)
2.      Proses Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan atau redupliksai adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah.
Cara Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
a.             Pengulangan tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek
Contoh : Berkata – kata dari bentuk dasar berkata. Pada cara ini ada pengecualian yaitu pada imbuhan se- nya. misalnya stinggi – tingginya ini tidak merupakan pengulangan karena kata setinggi – tingginya merupakan kata keterangan.
b.             Bentuk dasar berupa satuan dalam kehidupan bahasa Indonesia.
Contoh : Mepertahan – tahankan Bentuk dasarnya bukan mepertahankan melainkan mempertahankan, karena mempertahan tidak terdapat dalam pemakaian bahasa Indonesia.
Macam – Macam Pengulangan
a.       Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanapa perubahan fonem αdan tidak berkombinasi dengan proses perubahan afiks., misalnya sepeda sepeda – sepeda.
b.      Pengulangan
sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. misalnya mengambil – ambil.
c.       Pengulangan Yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks yaitu, bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulanag itu terjadi bersama – sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama – sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya, kereta – keretaan.
d.       Pengulangan Dengan Perubahan Fonem Kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit Disamping bolak – balik terdapat kata kebalikannya, sebaliknya, dibalik, membalik, dari perbandingan itu dapat disimpulkan bahwa kata bolak – balik dibentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /a/, menjadi /o/, dan dari /i/, menjadi /a/.

3.     Komposisi atau Pemajemukan
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ini adalah  gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru.
Contoh :          Keras+kepala = keras kepala
Kumis+kucing = kumis kucing
Dari contoh Kumis kucing dalam arti ‘sejenis tanaman’ adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor kucing’ bukanlah kata majemuk. Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan. ciri – ciri majemuk ini bias dilihat sebagai berikut :
1.      Melihat apakah salah satu unsurnya berupa pokok kata
Contoh :
Lomba lari, Lomba + lari  karena kata lomba merupakan pokok kata, jadi lomba lari merupakan kata majemuk.

2.       Kalau dipisahkan dengan kata (itu,yang, dll.) tidak membentuk kata yang benar.
Contoh :
“Kursi itu malas” Kata majemuk
 “Adik itu malas” frase
jadi, dapat disimpulkan bahwa “Kursi itu malas” merupakan kata mejemuk karena merupakan kata yang tidak benar (salah). sedangkan
“Adik itu malas” merupakan kata yang benar dan jelas artinya.

C.     Pengertian Morfem
Morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil sebagai satuan gramatikal dan mempunyai makna tertentu.
Contoh :
Dalam bentuk fonologis dalam makna dibandingangkan dengan kata:
1. Di ambil - ambil
2. Di bawa - bawa
3. Di curi - curi
4. Di dukung – dukung

D.    Jenis-jenis Morfem
1.      Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.

2.      Ditinjau dari Hubungan Struktur
 Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
*      morfem bersifat aditif (tambahan)
Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit.


*      Morfem yang bersifat replasif (penggantian),
Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah.
Contoh : terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh / ε/ pada kata man dan men.

*      morfem yang bersifat substraktif (pengurangan).
Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan. Perhatikanlah bentuk-bentuk berikut !

Betina
Jantan
Arti
/mov
/mov ε/
Buruk
εs/
/fo/
Palsu
/fos/
/bo/
baik

3.      Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni
a.       morfem yang bersifat urutan
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya
b.      morfem yang bersifat sisipan
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat kita lihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
c.       morfem yang bersifat simultan.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/ terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).
Dari ketiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem imbuhan dan morfem lainnya.

4.      Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
a)      morfem bebas
Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau
b)      morfem terikat
Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an.

Contoh Morfem bebas dan Morfem terikat :

“Petani harus bias membudidayakan buah”

Nunukanpara petani akan dibekali cara membudidayakan buah. Jika pembudidayaan ini berhasil, ke depanya pemerintah setempat berencana melakukan ekspor buah. Tak hanya itu, para investor  juga bakal tertarik untuk menanamkan modal di kabupaten Nunukan. Budidaya ini dianggap bias menguntungkan para petani . baik itu budidaya jangka menengah maupun jangka panjang. Meski masih banyak petani yang awam mengenai budidaya buah, namun tak menyurutkan niat pemerintah untuk tetap melakukan program tersebut.


-morfen terikat : dibekali, membudidayakan, pembudidayaan, berhasil, depannya, setempat, berencana , melakukan, tertarik, menanamkan, menguntungkan, menengah, dianggap

- morfem bebas : petani, buah, ekspor, investor, baik, jangka, panjang, namun, niat, awam,



Sumber : Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.