A.
Sejarah Perkembangan
Bahasa Indonesia
Penelusuran
perkembangan bahasa Indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi
(batu tertulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bangsa Melayu
di kepulauan Nusantara. Prasasti-prasati itu mengungkapkan sesuatu yang
menggunakan bahasa Melayu, atau setidak-tidaknya nenek moyang bahasaMelayu.
Nama-nama prasasti adalah:
1. Kedukan
Bukit (683 Masehi)
2. Talang
Tuwo (684 Masehi)
3. Kota
Kapur (686 Masehi)
4. Karang
Brahi (686 Masehi)
5. Gandasuli
(832 Masehi)
6. Bogor
(942 Masehi)
7. Pagaruyung
(1356) (Abas, 1987: 24)
Prasasti-prasasti
itu memuat tulisan Melayu kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu
kuno dan bahasa Sanskerta.
1. Prasasti
Kedukan Bukit yang ditemukan di tepi sungai Tatang di Sumatera Selatan, yang
bertahun 683 Masehi atau 605 Saka ini dianggap prasasti yang paling tua, yang
memuat nama Sriwijaya.
2. Prasasti
Talang Tuwo, bertahun 684 Masehi atau 606 Saka, menjelaskan tentang konstruksi
bangunan Taman Srikestra yang dibangun atas perintah Hyang Sri- Jayanaca
sebagai lambang keselamatan raja dan kemakmuran negeri. Prasasti ini juga
memuat berbagai mantra suci dan berbagai doa untuk keselamatan raja.
3. Prasasti
Kota Kapur di Pulau Bangsa dan Prasasti Karang Brahi di Kambi, keduanya bertahun
686 Masehi atau 608 Saka, isinya hampir sama, yaitu permohonan kepada Yang Maha
Kuasa untuk keselamatan kerajaan Sriwijaya, agar menghukum para penghianat dan
orang-orang yang memberontak kedaulatan raja. Juga berisi permohonanan
keselamatan bagi mereka yang patuh, taat, dan setia kepada raja Sriwijaya.
Selain
berbagai prasasti tersebut, terdapat pula beberapa catatan yang bisa dijadikan
sumber informasi tentang asal-usul bahasa Melayu. Sejarah kuno Negeri Cina
turut membuktikan tentang keberadaan bahasa Melayu tersebut. Pada awal masa
penyebaran agama kristen, pengembara-pengembara Cina yang berkunjung ke
kepulauan Nusantara menjumpai adanya berbagai lingua franca yang mereka namai Kw’en
Lun di Asia Tenggara. Salah satu diantara Kw’en Lun itu oleh I Tsing di identifikasi ke dalam Chronicle-nya sebagai bahasa Melayu.
Untuk keperluan perkembanagan bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia, Traktat
London (Perjanjian London) 1824 antara pemerintah Inggris dan Belanda merupakan
tonggak sejarah yang sangat penting. Sebab, pada traktat itu antara lain berisi
kesepakatan pembagian dua wilayah, yaitu:
a. Semenanjung
Melayu dan Singapura beserta pulau pulau kecilnya menjadi kekuasaan kolonial
Inggris; dan
b. Kepulauan
Nusantara (Kepulauan Sunda Besar: pulau-pulau Sumatera, Jawa, sebagian Borneo/
Kalimantan dan Sulawesi; Kepulauan Sunda Kecil; pulau-pulau Bali, Lombok,
Flores, Sumbawa, Sumba, sebagian Timor dan lain-lain; Kepulauan Maluku dan
sebagian Irian ) menjadi kekuasaan Kolonial Belanda.
“Bahasa
mereka, yaitubahasa Melayu... bukan saja digunakan di Pantai-panti Tanah Melayu,
melainkan juga diseluruh India dan di negeri-negeri sebelah Timur. Di mana-mana
pun bahasa ini dipahami oleh setiap orang. Bahasa ini bagaikan bahasa Perancis
atau bahasa latin di Eropa, atau semacam bahasa perantara di Itali atau di
Levent. Oleh karena banyaknya bahasa ini digunakan, maka seseorang yang mampu
dalam bahasa Melayu akan dapat dipahami orang baik dalam negeri Persia maupun
Filipina.”
Untuk
pembahasan ini kiranya perlu dibedakan dengan jelas antara bahasa Melayu era Kerajaan
Sriwijaya dan bahasa Melayu dari Sub-era Kerajaan Riau. Seperti disinggung
sebelumnya bahwa bahasa melayu era kerajaan Sriwijaya sangat dipengaruhi oleh bahasaSanskerta.
Karena sifat kekunoaannya itu, banyak ahli bahasa menyebut bahasa pada era Kerajaan
Sriwijaya itu sebagai bahasa Melayu Kuno.Sementara
itu, bahasa Melayu pada sub-era Kerajaan
Riau atau Kerajaan MelayuRiau sama sekali tidak dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta
dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Riau. Oleh sebab itu, bahasa ini
disebut “bahasa-bahasa MelayuRiau”.
Terdapat tiga periode dalam sub-era ini, sperti diuraikan berikut ini.
Seperti telah dikatakan sebelumnya, tentara kerajaan Majapahit menyerang kerajaan
Tumasik yang memaksa pusat kekuasaannya dipindahkan ke Malaka di Semenanjung
Malaya. Adat istiadat dan bahasa yang dibawa dari Tumasik dipertahankan, dan
mualai saat itu dan seterusnya bahasa MelayuRiau berkembang dan tersebar ke hampir seluruh penjuru Semenanjung Malaya.
Kerajaan
malaka berkibar selama hampir 100 tahun. Lokasinya yang berada di pintu gerbang
Selat Malaka yaitu rute lalu lintas pelayaran yang ramai dan penting yang
menghubungkan antara Asia Timur dan Asia Barat, antara Asia Timur dan Eropa,
antara Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan, dan antara Samudera Hindia dan
Samudera Pasifik, Malaka merupakan pelabuhan yang paling sibuk dikawasan Asia
Tenggara pada waktu itu.
Pada
perAlian abad ke-15, Malaka juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. Menjelmanya
kota itu menjadi pusat penyebaran agama Islam. Dengan demikian, Malaka menjadi
pusat dua kegiataan, yaitu perkembangan dan penyebaran bahasaMelayu, dan
penyebaran agama Islam. Sebenarnya, dua kegiatan ini terlaksana secara bersamaan,
sebab para guru dan penganjur agama Islam, dalam melaksanakan misinya itu,
mengikuti perjalanan para pelaut dan para pedagang, mempergunakan bahasaMelayu.
Pada
tahun 1511, misionaris Portugis menyerang dan menaklukkan Malaka yang memaksa
dipindahkannya pusat kedua kegiatan tersebut. Pusat perkembangan dan penyebaran
bahasa Melayu, dan penyebaran ajaran agama Islam pindah ke Johor. Meskipun
Malaka dijadikan oleh Portugis sebagai pusat penyebaran agama Kristen, namun
peran sebagai pusat pengembangan dan penyebaran bahasaMelayu tetap berlangsung.
Berkat orang Portugis, penggunaaan bahasa Melayu tidak terbatas hanya dikawasan
Asia Tenggara saja, melainkan meluas kepusat-pusat perdagangan di India dan
Cina Selatan. Sebagai bukti, Ar-Raniri, seorang pengarang dan Teolog Islam yang
lahir dan besar di India telah menguasai bahasaMelayu dengan baik ketika iatiba
di Aceh tahun 1637. Hal ini hanya mungkin apabila bahasa Melayu telah banyak
dipergunakan di Gujarat pada masa itu (Alisjahbana dalam Fishman, 1974: 394).
Bahasa Melayu juga merambah jalannya ke benua Eropa dalam abad ke-16. Karena bahasaMelayulah
yang dipergunakan oleh para raja atau pangeran Malaya ketika berkomunikasi
dengan Raja Portugis. Pada waktu yang sama, St. Francis Xavier mempergunakan bahasaMelayu
untuk mengajak penduduk Maluku memeluk agama Kristen. Xavier sendiri mengatakan
bahwa bahasa Melayumerupakan bahasa yang dimengerti oleh hampir setiap orang.
Pada
tahun 1719 Raja Kecil, dari Istana Kerajaan Johor, dipaksa memindahkan Pusat
kekuasaannya ke Ulu Riau, di Pulau Bintan, salah satu pulau yang bergabung
dalam Kepulauan Riau. Pemindahan ini merupakan permulaan dari suatu periode
dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, yaitu periode Kerajaan Riau
dan Lingga. Dalam periode inilah bahasa Melayu memperoleh ciri Ke-Riau-annya,
dan bahasa MelayuRiau inilah yang merupakan cikal bakal bahasa Nasional
Indonesia yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Periode Kerajaan
Riau dan Lingga tercatat mulai tahun 1719, sehingga didirikan oleh Raja Kecil,
sampai dengan tahun 1913, ketika kerajaan itu dihapus oleh Pemerintah Kolonial
Belanda. Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya, ada tiga
momentum yang penting sekali bagi perkembangan dan persebaran bahasa MelayuRiau
yaitu tahun 1808, ketika Raja Ali Haji lahir; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji
menyelesaikan bukunya yang berjudul Bustanul
Katibin, suatu tatabahasa normatif bahasa MelayuRiau; dan tahun 1894,
ketika percetakan Mathba’atul Riauwiyah
atau Mathba’atul Ahmadiyah didirikan.
Pengoperasian percetakan Mathba’atul Riauwiyah
ini sangat penting karena melalui buku-buku dan pamflet-pamflet yang
diterbitkannya, bahasa Melayu Riau tersebar ke daerah lain di Kepulauan Nusantara.
Yang lebih penting adalah usaha pembakuan bahasa MelayuRiausudah dimulai.
Selama
perang antara Perancis dan Inggris yang berlangsung di Eropa, yang berakibat
Negeri Belanda sempat diduduki Perancis beberapa tahun, selama itu terjadi pula
perang antara kekuasaan Inggris di Asia Tenggara dan kekuasaan Belanda yang
tunduk kepada Pemerintah Perancis di Kepulauan
Nusantara. Dari sudut pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, konflik
antara Inggris dan Belanda sangat penting, karea konfrontasi antara kedua
kekuasaan itu berakhir pada pembagian kawasan Kepulauan Nusantaramenjadi dua,
berdasarkan variasi bahasa Melayu yang dipergunakan di kawasan itu, yaitu bahasaMelayu Johor dan bahasa MelayuRiau.
Bahasa Melayu Riau yang merupakan bahasa Ibu penduduk Kerajaan Riau dan Lingga
dan pulau-pulau disekitarnya berkembang dan menyebar dengan sangat pesat,
sesuai dengan keperluan masyarakat yang bersangkutan sebagai alat komunikasi
lisan. Bahkan, sejak berlakunya persetujuan London atau Traktat London, bahasa
MelayuRiau mendapatkan status bahasa yang baik dalam kesusastraan Dunia.
Berbagai karya kesusastraan yang cukup tinggi nilainya ditulis oleh penutur
asli bahasa MelayuRiau diterbitkan. Pada tahun 1857, misalnya, Raja Ali Haji
menerbitkan bukunya yang berjudul Bustanul
Katibin, sebuah buku tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau. Buku tata bahasa
ini selama berpuluh-puluh tahun dipergunakan oleh sekolah-sekolah di wilayah Riau
dan Lingga, dan Singapura. Pengarang-pengarang lain yang sezaman dengan Raja
Ali Haji misalnya Raja Ali Tengku Kelana, Abu Muhammad Adnan, dan lain-lain,
juga menerbitkan karya mereka.
Publikasi
karya Raja Ali Haji dan pengarang lain
dapat dianggap sebagai upaya awal dalam proses pembakuan bahasa MelayuRiau.
Bahkan, pada permulaan abad ke-20 karya-karya ini dijadikan buku acuan oleh
ahli-ahli Bahasa Belanda. Bahasa MelayuRiau yang sedang berkembang pesat dan
tumbuh dengan sehat ini oleh banyak ahli bahasa disebut dengan bahasa Melayu
Tinggi.
Bahasa
MelayuRiau mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh
masyarakat pribumi yang bersifat multi-etnik yang mempunyai bahasa daerah
sendiri-sendiri. Disamping itu, bahasaMelayu yang sejak dulu menjadi lingua franca meningkat statusnya
menjadi bahasa yang memiliki norma supra-etnik dikuasai oleh semua orang yang
suka berlayar atau bepergian kemana-mana.
A. Peristiwa
Penting menyangkut Perkembangan Bahasa MelayuRiau
Beberapa
Peristiwa Penting menyangkut Perkembangan Bahasa Melayu Riau dapat diungkapkan
dibawah ini :
1) Tahun
1865 bahasa MelayuRiau
diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai bahasa resmi kedua
mendampingi bahasa Belanda. Peranan ke-lingua
franca-an bahasa Melayu semakin nyata dan penting.
2) Tahun
1901 Charles van Ophuijsen menerbitkan bukunya yang berjudul Kitab logat Melajoe: Wondenlijst voor de
Spelling der Maleische Taal yang berisi sistem ejaan bahasa Melayu mempergunakan
huruf latin yang bersifat fonemis. Sebelumnya bahasaMelayuRiau mempergunakan
huruf Arab (biasa diistilahkan huruf Jawi) yang bersifat silabik sebagai sistem
ejaan. Sistem ejaan van Ophuijsen dengan huruf latin dianggap lebih sesuai
dengan bahasaMelayu.
3) Tahun
1918 bahas Melayu mulai dipergunakan didalam sidang-sidang Volksraad (Dewan Rakyat). Dengan demikian status bahasa Melayu
meningkat menjadi bahasa supra-etnik melebihi bahasa-bahasa daerah lainnya.
4) Tahun
1920 bahasa Melayu menjadi bahasa Balai Pustaka. Semua buku hasi penerbitan
Balai Pustaka mempergunakan bahasaMelayu. Penyebaran bahasa Melayu ke pelosok Nusantara
semakin intensif. Semua sekolah dasar di desa-desa mempergunakan bahasaMelayu
sebagai bahasa pegantar. Disamping itu, bahasa Melayu juga menjadi bahasa para
pejuang kemerdekaan Indonesia.
5) Pada
tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Melayu dijadikaan oleh para peserta Kongres Pemoeda sebagai bahasa persatuan
yang tertuang pada butir ketiga Soempah
Pemoeda yang diikrarkannya.
6) Pada
tahun 1933 bahasa Melayu menjadi bahasa Poedjangga
Baroe sekelompok pengarang yang menerbitkan berbagai majalah buku.
7) Pada
tahun 1938 Kongres Bahasa Melayu (Indonesia) di Solo. Kongres ini meletakkan
dasar-dasar tentang pemakaian istilah bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu
lagi.
8) Tahun
1942-1945 Kepulauan Nusantara diduduki oleh balatentara Jepang. Bahasa Melayu
menjadi satu-satunya bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan.
9) Pada
tanggal 17 Agustus 1945 prolamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan ke seluruh
dunia dengan mnggunakan bahasa Indonesia. Pasal ... ayat ... UUD 1945 memuat bahwa
“Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan resmi negara.” Sejak itu bahasa
Indonesia menjadi bahasa Angkatan ’45.
10) Tahun
1954 Kongres bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh
utusan dari Semenanjung Malaya dan Singapura.
11) Tahun
1972 anatara Republik Indonesiadan Negara Malaysia tercapai persetujuan di bidang
kebudayaan. Masalah bahasa termasuk di dalamnya. Terbentuklah Majelis Bahasa
Indonesia dan Malaysia (MABIM).
12) Pada tanggal 16 Agustus 1972 diumumkan pemberlakuan
Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) di Indonesia dan di Malaysia.
Kenyataan ini menjadikan bahasa Melayu sebagai norma supra-nasional.
13) Pada
tanggal 30 Agustus 1975 diumumkan pula pemberlakuan tatacara pembentukan
istilah di Indonesia dan Malaysia. Hal ini semakin memperkuat MABIM sehingga
Negara Brunai Darussalam dan Republik Singapura tertarik untuk bergabung di
dalam majelis bahasa ini.
14) Kongres
Bahasa Indonesia III dan seterusnya disenggarakan secara teratur setiap lima
tahun. Kongres Bahasa Indonesia VI tahun 1993 menghasilkan berbagai keputusan
yang memperkuat kedudukan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa
15) persatuan,
bahasa nasional, bahasa negara, bahasa resmi, maupun sebagai bahasa ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek).
16) Kerja
sama kebangsaan atara Negara Kesatuan Republik Indonesia, Negara Malaysia, Negara
Brunai Darussalam, dan Republik Singapura semakin kokoh. Keadaan ini akan
mengantar bahasa Melayu menjadi bahasa komunikasi luas di kawasan Asia Tenggara
untuk selanjutnya diharapkan menjadi slah satu bahasa dunia di dalam abad
ke-21.
Pada tahun 1956 terbentuk Negara
Persekutuan Tanah Melayu. Peristiwa ini kemudian disusul dengan terbentuknya
Negara Malaysia, yang mencakup Serawak dan Sabah (North Borneo), yang merdeka dan berdaulat, lepas dari kekuasaan
Inggris. Setelah kemerdekaan dicapai, bahasa Melayu di negara tersebut mulai
memerankan fungsinya sebagai bahasa resmi, bahasa negara, bahasa nasional, dan
mengalami perkembangan yang cukup pesat. Fenomena ini menunjukkan bahwa sampai
saat ini bahasaMelayu, baik sekarang menjadi bahasa Indonesia di Indonesia,
bahasa Melayu di Malaysia, bahasa ... di Brunai, dan bahasa ... di Singapura,
tetap berkembang dan menjalankan fungsinya sebagaialat yang berperan sebagai
bahasa komunikasi luas di Asia Tenggara. Yang diperlukan adalah pengakan dari
internasional (lewat PBB) bahwa bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa yang
layak dipakai sebagai bahasa komunikasi internasional atau dunia. Apabila
harapan tercapai, berarti secara de jure
bahasa Melayu semakin mantap.
Berdasarkan petunjuk-petunjuk lainnya,
dapatlah kita kemukakan bahwa Zaman Sriwijaya bahasa Melayu berfungsi sebagai
berikut:
1. Bahasa
Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi
aturan-aturan hidup dan sastra.
2. Bahasa
Melayu berfungsi sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) antarsuku di
Indonesia.
3.
Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan, terutama disepanjang
pantai, baik bagi sukuyang ada di Indonesia maupun bagi perdagangan-perdagangan
yang datang dari luar Indonesia.
B. Peresmian
Nama Bahasa Indonesia
Bahasa
Indonesia dengan perlahan-lahan, tetapi pasti, berkembang tumbuh terus. Pada
waktu akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesatnya sehingga
bahasa ini telah menjelma menjadi bahasa modern, yang kaya akan kosakata dan
mantap dalam struktur.
Pada
tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda kita mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah
Putusan Kongres Pemuda Indonesia Tahun 1928 ini berisi tiga butir kebulatan
tekad sebagai berikut.
Pertama : Kami
putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air
Indonesia.
Kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku
berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung
tinggibahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Pernyataan
yang pertama adalah pengakuan bahwa pulau-pulau yang bertebaran dan lautan yang
menghubungkan pulau-pulau yang merupakan wilayah Republik Indonesia sekarang
adalah salah satu kesatuan tumpah darah yang disebut Tanah Air Indonesia.
Pernyataan yang kedua adalah pengakuan bahwa manusia-manusia yang menempati
bumi Indonesia itu juga merupakan satu kesatuanyang disebut bangsa Indonesia.
Pernyataan yang ketiga merupakan pengakuan “berbahasa satu”, tetapi merupakan
pernyataan tekad kebahasaan yang menyatakan bahwa kita bangsa Indonesia,
menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.
Dengan
diikrarkannya Sumpah Pemuda, resmilah bahasaMelayu, yang sudah dipakai sejak
pertengahan Abad VII itu, menjadi bahasa Indonesia.
C. Perkembangan
Ejaan Bahasa Indonesia
Ejaan
bahasa Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan. Adapun ejaan yang
kita gunakan pada saat ini adalah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Namun sebelum
itutelah digunakan beberapa ejaan yang lain.
1) Ejaan
Van Ophuysen
Ejaan ini
digunakan sejak tahun 1901 sampai Maret 1974 di Indonesia. Ejaan ini merupakan
ejaan bahasa Melayu dengan huruf latin, ciri-cirinya huruf “I” untuk membedakan
antara huruf I sebagai akhiran dan karenanya harus dengan diftong seperti mulai
dengan ramai, juga digunakan untuk huruf “y” soerabaia. Huruf “j”untuk
menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang dan sebagainya. Huruf “oe” untuk
menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dan sebagainya.
Tanda
diakritik seperti koma, ain, dan tanda, untuk menuliskan kata-kata ma’moer,
akal’, ta’, pa’ dan sebagainya
2)
Ejaan Republik
Ejaan
ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan
ini dikenal dengan nama Ejaan Soewandi.
Ciri-ciri:
a. Huruf
“oe” diganti dengan “u” pada kata-kata guru, itu, umur, dan sebagainya.
b. Bunyi
Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan “k” pada bunyi kata-kata tak, pak,
rakjat, dan sebagainya. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti
kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an. Awalan di- dalam kata depan di kedua-duanya
ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.
3) Ejaan
Melindo (Melayu Indonesia)
Di kenal pada tahun
1959, karena perkembangan politik selama bertahun-tahun berikutnya
diurungkanlah peresmian ejaan ini. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia.
Berdasarkan Putusan Presiden No.57 Tahun 1972.
TAHAP-TAHAP
KONGRES
A.
Kongres Bahasa
Indonesia I
Tanggal 25-28 juni 1938 dialangsungkan kongres
bahasa Indonesia I di solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa
usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia saat itu. Tanggal 18 Agustus
1945 ditandatangganilah undang-undang dasar 1945, yang salah satunya pasalnya
(pasal 36) menetapkan bahwa Indonesia sebagai bahasa Negara. Tanggal 19 maret
1947 diresmikan penggunaan ejaan republic sebagai pengganti ejaan van ophuijsen
yang berlaku sebelumnya.
B.
Kongres Bahasa
Indonesia II
Tanggal 28 oktober s.d 2 november 1954
diselenggarakan kongres bahasa Indonesia II di medan . kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia
untuk terua-menerus menyempurnakan bahasa indonesia yang diangkat sebagai
bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa Negara.
Tanggal 16 agustus 1972 H.M. soeharto, presiden
republic Indonesia, meresmikan penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan
dihadapan siding DPR yang dikuatkan pula dengan keputusan presiden no.57
tahun 1972.
Tanggal 31 agustus 1972 menteri pendidikan dan
kebudayaan menetapkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan
dan pedoman umum pembentukan istilah resmi berlaku diseluruh wilayah Indonesia
(wawasan nusantara).
C.
Kongres Bahasa
Indonesia III
Tanggal 28
oktober s.d 2 november 1978 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia III
dijakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati sumpah pemuda yang
ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa
Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi
bahasa Indonesia.
D.
Kongres Bahasa
Indonesia IV
Tanggal 21-26
november 1983 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia IV dijakarta. Kongres
ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda yang ke-55.
Dalam putusnya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia
harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum didalam garis-garis
besar haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga Negara Indonesia untuk
menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapatt tercapai semaksimal
mungkin.
E.
Kongres Bahasa
Indonesia V
Tanggal 28
oktober s.d November 19888 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia V Djakarta.
Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari
seluruh Indonesia dan peserta tamu
Negara dari Negara sahabat sejati brunei Darussalam, Malaysia, singapur,
belanda , jerman dan Australia. Kongeres itu ditandatangani dengan
dipersembahkannya karya besar pusat pembinaan dan pengembangan bahasa kepada
pecinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa
Baku Bahasa Indonesia.
F.
Kongres Bahasa
Indonesia VI
Tanggal 28
Oktober s.d. 2 November 1993 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia VI di
Jakarta. Persertanya sebnayak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 pesertta
tamu dari mancanegara meliputi Australia, BrunaiDarsalam, Jerman, Hongkong,
India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea selatan, Dan Amerika Serikat.
Kongres mengusulkan agar pusat pembinanan dan pengembanmgan bahasa ditingkatkan
statusnya menjadi lembaga bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya undang
undang bahasa Indonesia.
G.
Kongres Bahasa
Indonesia VII
Tanggal 26-30
oktober 1998 diselenggarakan kongres bahasa Indonesia VII di hotel Indonesia,
Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya badan pertimbangan bahasa,.
H.
Pada bulan
Oktober tahun 2003, para pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan
menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia ke- VIII. Berdasrkan Sumpah Pemuda
yang dicetuskan pada bulan Oktober tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda
memiliki satu bahasa yakni bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun
dijadikan bulan bahasa. Pada setiap bulan nahsa berlangsung seminar Bahasa
Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan bahasa Indonesia. Dan bulan
bahasa tahun ini mencakup juga kongres bahasa Indonesia.
I.
Kongres Bahasa
Indonjesia IX
Dalamk rangka
peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun
berdirinnya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanakan sebagai tahun bahasa 2008.
Oleh karena itu, sepnjang dan kesastraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan
kebahasaan dan kesastraan serta peringatan 80 tahun sumpah pemudah, diadakan
kongres IX Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta.
Kongres tersebut
akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan
bahasa asing, pengajaraan bahasa dan sastr, serta bahasa media massa. Kongres
bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pakar bahasa
dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa
Indonesia di luar negeri sudah sepentasnya diberi kesempatan untuk memaparkan
pandangannya dalam kongres tahun ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Suparlan, 2014, PanduanLengkap EYD denganPedomanPembentukanIstilah,
Yogyakarta : PUSTAKABARUPRESS.
Zulkifli, Erna Wahyuni,M. Thobroni, dkk.2014. Bahasa Indonesia. Universitas Borneo Tarakan: PendidikanBahasa,Sastra Indonesiadan Daerah FKIP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar