Senin, 20 Maret 2017

Fonologi

FONOLOGI
A.   Pengertian Fonologi
Istilah fonologi berasal dari bahasa yunani yaitu fhone “bunyi”, dan logos artinya ilmu. Jadi secara bahasa fonologi berate ilmu yang mempelajari tentang bunyi/ucapan, dan secara istilah fonologi adalah ilmu yang mempelajari bbunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, fonologi merupakan cabanbg tata bahasa.

B.   Ilmu-Ilmu yang terkait dalam Fonologi
a.     Fonetik
Ilmu mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fenom sebuah bahasa yang  direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari serta  menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia.
Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan maka bunyi yang dihasilkan adalah vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan dari beberapa hal berikut;
Ø Berdasarkan bentuk bibir : vokal bulat, vokal netral, dan vokal tak bulat;
Ø Berdasarkan tinggi rendahnya lidah : vokal tinggi, vokal madya (sedang), dan vokal rendah;
Ø Berdasarkan bagian lidah yang bergerak : vokal depan, vokal tengah, dan vokal belakang;
Ø Berdasarkan strikturnya : vokal tertutup, vokal semi-tertutup, vokal semi-terbuka, dan vokal terbuka.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan diagram vokal berikut!

Depan
Madya
Belakang
Tertutup
I:

U:
Tengah
e

o
Hampir terbuka
(e)

(c
Terbuka
a


Jika bunyi ujaran, ketika udara keluar dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah bunyi konsonan. Halangan yang dijumpai bermacam-macam, ada hubungan yang bersifat seluruhnya, dan ada pula yang sebagian yaitu dengan menggeser atau mengadukan arus suara atau tabel sehingga menghasilkan konsonan yang bermacam-macam pula. Pembagian fonem konsonsan dalam bahasa Indonesia, misalnya berikut ini.
a.     Konsonan hambat, bersuara, bilabial; b
b.     Konsonan hambat, tak bersuara, bilibial: p
c.      Konsonan hambat, bersuara, bilabial:m, dan seterusnya.
Macam-macam fonetik terdiri dari :
1.     Fonetik artikulatoris  meneliti   alat-alat organik  yang  dipakai  untuk menghasilkan bunyi   bahasa.  Fonetik   organis,   atau   fonetik    artikulatoris,  atau   fonetik   fisiologis mempelajari   bagaimana   mekanisme   alat-alat   bicara  yang  ada  dalam tubuh manusia menghasilkan bunyi bahasa.
2.     Fonetik  akustik  menyelidiki  bunyi  menurut  sifat-sifatnya  sebagai  getaran udara. Fonetik  akustik   menyangkut  bunyi  bahasa  dari   sudut  bunyi  sebagai  getaran  udara,  dari   segi   bunyi   sebagai   gejala fisis.   Bunyi-bunyi   diselidiki   frekuensi  getarannya, amplitudo, intensitas, dan timbrenya oleh alat pembantu seperti oscillograph.
3.     Fonetik    auditoris  mempelajari  bagaimana  mekanisme  telinga  menerima  bunyi bahasa   sebagai   getaran   udara.   Fonetik   jenis  ini   cenderung  dimasukkan ke  dalam neurologi ilmu kedokteran.
b.     Fonemik
Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi bahasa sebagai (fonem) pembeda makna. Tiap bunyi ujaran dalam tiap bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran yang dapat membedakan arti ini disebut fonem. Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada tiga puluh dua buah fonem, yang terdiri atas;
a.     Fonem vocal 6 buah ; a,i,u,e,o
b.     Fonem diftong 3 buah ; oi, ai, ou
c.      Fonem konsonan 26 buah
Selain dari fonem dan fonetik, hal yang perlu dipahami dalam berujar adalah intonasi. Intonasi mengatur tinggi-rendah, keras lunak, cepat lambatnya suara dalam berujar sehingga ujaran dapat dipahami oleh pendengar.
C.   Alat Ucap Bahasa
Fonetik artikulatoris membicarakan cara-cara alat ucap untuk membentuk berbagai bunyi bahasa. Dalam hal ini yang terlebih dahulu untuk dipelajari adalah alat ucap dan bagian-bagiannya.
Alat-alat ucap manusia yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa (fon) dibedakan menjadi 3 bagian :
1.     Artikulator, ialah alat-alat bicara manusia yang dapat bergerak secara leluasa dan dapat me nyentuh bagian-bagian alat ucap lainnya (titik artikulasi) serta dapat membentuk bermacam-macam posisi. Alat bicara semacam ini terletak dibagian bawah atau rahang bawah. Alat ucap yang dimaksud artikulator seperti :
a)     Bibir bawah (labium)
b)    Gigi Bawah (dentum)
c)     Ujung Lidah (apeks)
d)    Depan Lidah (front of the tongue)
e)     Tengah Lidah (lamino)
f)      Belakang lidah (dorsum)
g)     Akar lidah
2.     Titik artikulasi, ialah alat-alat bicara manusia yang menjadi pusat sentuhan dan bersifat statis. Alat-alat ini terdapat dibagian atas atau rahang atas. Alat-alat ucap yang dimaksud seperti :
a)     Bibir atas (labium)
b)    Gigi atas (dentum)
c)     Lengkung kaki gigi atas (alveolum)
d)    Langit-langit keras (alatum)
e)     Langi-langit lunak (velum)
f)      Anak tekak (uvula)
3.     Alat-alat lain, yang dimaksud ialah alat-alat bicara selain artikulator dan titik artikulasi yang dapat menunjang terjadinya bunyi bahasa. Alat ucap yang dimaksud seperti :
a)     Hidung (nose)
b)    Rongga Hidung (nasal cavity)
c)     Rongga Mulut (oral cavity)
d)    Pangkal Kerongkongan (laring)
e)     Katup Jakun (epiglotis)
f)      Pita Suara
g)     Pangkal Tenggorokan (laring)
h)    Batang Tenggorokan (trakea)
i)       Paru-paru
j)       Sekat Rongga dada (diafragma)
k)    Saraf Diafragma
l)       Selaput Rongga Dada (pleural cavity)
m)  Bronchus.


Fonem vocal
     
NO
Bunyi Bahasa
Huruf
Penjelasan
1.
Fonem vokal
A
Keadaan bibir hampar, Depan lidah diturunkan serendah mungkin, Anak tekak dan lelangit lembut dinaikkan bagi menutup rongga hidung supaya udaratidak keluarmelalui rongga hidung, Udara dariparu-parukeluar kerongga mulut, Pita suara digetarkan.
I
ujung lidah dikenakan pada gusi, Lelangit lembut dan anak tekak dinaikkan kebelakang rongga hidung untuk membuat sekatan arus udara dari paru-paru kerongga hidung, Pita suara dirapatkan, Arus udara dari paru-paru keluar kerongga mulut dengan menggetarkan pita suara, Arus udara dibiarkan keluar melalui tepilih dan sahaja.
U
Keadaan bibir hampar, Belakang lidah dinaikkan setinggi mungkin kearah lelangit lembut tetapi tidak sampai menyentuh lelangit lembut, Anak tekak dan lelangit lembut dinaikkan bagi menutup rongga hidung supaya udara tidak keluarmelaluirongga hidung, Udara dari paru-paru keluar kerongga mulut, Pita suara digetarkan.
E
Keadaan bibir hampar, Depan lidah dinaikkan setinggi yang mungkin kearah gigi gusi, Anak tekak dan lelangit lembut dinaikkan bagi menutup rongga hidung supaya udara tidak keluar melalui rongga hidung Udara dari paru-paru keluar kerongga hidung Pita suara digerarkan
O



Keadaan bibir hampar, Belakang lidah dinaikkan separuh tinggi kearah lelangit lembut tetapi tidak sampai menyentuh lelangit lembut, Anak tekak dan lelangit lembut dinaikkan bagi menutup rongga hidung supaya udara tidak keluar melalui rongga hidung, Udara dari paru-paru keluar kerongga mulutPita suaradigetarkan.


Fonem konsonan

Fonem Konsonan
B
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
C
Bagian sisi lidah ditempatkan tegas menyentuh bagian samping gigi atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.
D
Ujung lidah secara ringan menyantuhgusiatas, jentikannya diawali oleh desakan   udara, lidah melepas diri dari tekanan.
F
Gigi atas lebih ditekankan pada bibir bawah.
G
Pita suara dirapatkan, Arusudaradari paru-paru yang keluar melalui rongga mulut mengetarkan pita suara, Bunyi yang dihasilkan ialah letupan lelangitlembutbersuara [g].
H
Langit-langit bagian yang lunak sejenak memperkuat hembusan nafas ke sasaran yang dituju.
J
Depan lidah diangkat tinggi kearahgusi, Bibir di hamparkan, Lelangit lembut dinaikkan kebelakang rongga tekak untuk menyekat udara dariparu-paru kerongga hidung, Pita suara digetarkan sambil lidah bergerak pantas kekedudukan untuk membunyikan vokal [j], Bunyi yang dihasilkan ialah bunyi separuh vokal lelangit kerasbersuara [j]
K
Belakang lidah dirapatkan ke lelangit lembut untuk membuat sekatan penuh pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak dirapatkan kerongga tekak bagi menyekat arus udara dari paru-paru kerongga hidung, Pita suara di renggangkan, Arus udara keluar dari paru-paru melaui rongga mulut tanpa menggetarkan pita suara, Sekatan udara yang dibuat oleh belakang lidah dilepaskan serta merta. Bunyi yang dihasilkan ialah letupan lelangit lembut tidak bersuara [k]
L
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.
M
Bibir bawah dan bibir atas dirapatkan untuk membuat sekatan pada arus  udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk memberikan laluan arus udara dari paru-paru kerongga hidung, Arus udara dariparu-parumasuk keronggamulutdan terus kerongga hidung,  Pita suara dirapatkan untuk membuat getaran, Arus udara dilepaskan perlahan-lahan.
N
Depan lidah dinaikkan kelelangit keras untuk membuat sekatan arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk memberikan laluan arus  udara yang terkeluar dari paru-paru kerongga hidung, Pita suara dirapatkan dan digetarkan, Arus udara dari pada paru-paru melalui rongga mulut dan terus kerongga hidung, Udara yang tersekat oleh depan lidah dan lelangit keras dilepaskan pelahan-lahan
P
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
Q
Suara badan lidah aspirasi.lafalkan seperti konsonan di dalam bahasa indonesia
R
Ujung lidah digetarkan hingga menyentik pangkal gigi atas dan sedikit gigi bawah.
S
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah bergerak keatas.
T
Ujung lidah ditempatkan (bukan diletakkan) menyentuh gusi tepat diatasgigi. Begitu lidah memetik dan lepas dari posisi, ledakan kecil dari udara dihembuskan.
V
Lidah melengkung tepat dibagian belakanggigi atas, tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dann  menipis lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.
W
Bibir di bundarkan, Belakang lidah dinaikkan kelangit lembut, Lelangit lembut dinaikkan kebelakang rongga tekak untuk menyekataru sudara dari paru-paru kerongga hidung, Udara dari paru-paru keluar kerongga mulut, Pita suara digetarkan dan lidah bergerak dengan pantas kekedudukan untuk membunyikan vokal tengah [w].
X
Y
Dimulai dengan formasi [I] dan bongkokkanlidah, seolah hanya memberi sedikit ruang padamulutbagianatas.
Z
Sama seperti membunyikan [S] namun sedikit lebih berat.

Fonem Kluster

Fonem Kluster
Kh
Ujung lidah bersentuhan dengan langit lembut
Ny
Tengeah lidah bersentuhan dengan langit-langit kasar
Ng
Ujung lidah di tempatkan di belakang dan diatas gigi atas bagian depan. pojok(bagian belakang dari lidah) di angkat dan bergerak sejauh mungkin. lakukan NG seperti mengucap (singing-sangsung).
Sy
Ujung lidah bekerja terbalik seperti tetapi cenderung naik kemulut,gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah,dan bibir bawah bergerak ke atas
                                                                                                                
Fonem Diftong

Fonem Diftong
Ai
Untuk membunyikan diftongai, lidah berada pada kedudukan membunyikan vokal hadapan luas [a], dan secara cepat geluncur kanlidah kearah cara membunyikan vokalhadapansempit [i]. ujung lidah dinaikkan tetapi tidaklah setinggi membunyikan vokal [i]. ujung lidah terkena pada gigi bawah. Lelangit lembut dinaikkan rapat kedinding rongga tekak. Glotis  dirapat kandan pita suara bergetar. Buka antara rahang adalah antara luas dan sederhana dan bibir dihamparkan.
Oi
Bunyi diftong terhasil apabila bunyi satu vokal menggeluncur dengan cepatnya kesatu vokal yang lain.  Caranya ialah lidah, padamulanya, diletakkan pada keadaan membunyikan satu vokal, kemudian digeluncurkan kearah membunyikan vokal yang lain lalu menjadi gabungan dua bunyi vokal. Untuk membunyikan diftongoi pula, lidah diletakkan sebagaimana menghasilkanbunyivokal belakang separuhsempit [o], dan dengan cepatnya digeluncurkan lidah kearah cara membunyikan vokal hadapan sempit [i]. Lelangit lembut dinaikkan rapat kedinding rongga tekak.
Au
Bunyi diftong [Au] ini dihasilkan dengan kedudukan lidah secara anggarannya pada posisi seperti melafazkan bunyi [a] dan secepatnya beralih kepada bunyi vokal belakang tertutup [u]. walau bagaimanapun bagian belakang lidah ini tidak benar menaik sepertimana melafazakn bunyi[u]. bentuk bibir pada mulanya tidak dalam keadaan bundar tetapi apabila hampir selesai lafaz bunyi ini bentuk bibir menjadi bundar. ujung lidah hampir-hampir menyentuh gigi depan bagian bawah dan pembukakan rahang antara sederhana dan luas.




Daftar pustaka


Zulkifli, Erna Wahyuni,M. Thobroni, dkk.2014. Bahasa Indonesia. Universitas Borneo Tarakan: Pendidikan Bahasa,Sastra Indonesia dan Daerah FKIP.
Suparlan, 2014, Panduan Lengkap EYD dengan PedomanPembentukan Istilah, Yogyakarta : PUSTAKA  BARU PRESS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar